Travelling

Field Trip to Koperasi Kasih Indonesia

Hello readers!

In the last few months, I’ve been participating in Young Leaders for Indonesia, an initiative program from McKinsey Indonesia to give back to Indonesian community. One of its activities is Breakthrough Leadership Program. The participants were divided into groups, and each group was given a project. My group got a project with Koperasi Kasih Indonesia (KKI). KKI is a co-operation, which has vision to empower millions of poor Indonesian to exit poverty sustainably! To achieve their vision, KKI has three programs, which are education, savings, and loan.

Before my group started to dive into the project, we agreed to have field trip to KKI. A couple weeks ago, we visited Koperasi Kasih Indonesia (KKI), which is located in Cilincing, North Jakarta. Cilincing is one of the poorest sub-districts (‘kecamatan’) in Jakarta. That’s my first time visiting North Jakarta and it’s look like a movie. There’s an infrastructure development near Priok Harbor. The street’s very narrow with potholes everywhere. I couldn’t believe that I was in Jakarta.

When we arrived at Koperasi Kasih Indonesia’s office, the weekly meeting had already begun. Mr. Ferry Setiawan as a Branch Manager led the weekly meeting, and there were about 7 – 10 field personnel. They reported their performance by speaking loudly. They also explained what kind of problems they encountered with and they need to come up with solutions.

After Ravio and Gabriel came, Mr. Leon introduced us with KKI team. After that we had a discussion with Mr. Leon to know more about KKI.  At noon, after we had eaten our ‘Nasi Padang’, we were separated into four different groups. I was matched with Ms. Lucyana (COO of KKI, Branch Manager I). At first we went to a small house, not really far from KKI office (approx. 5 minutes by taking motorcycle). I was surprised that there were approximately 15 – 20 ‘ibu-ibu’ were waiting us. And what made it more surprising were they must went to a small room. It’s very crowded, I couldn’t even breathe. Ms. Lucyana told me it’s ‘Pencairan’ session.

Disbursement

Disbursement

We started the session by praying. After that she told the ‘ibu-ibu’ the agenda for that day. Some of them were very exciting, the others just look like didn’t really care as long as they got the money. After that, Ms. Lucyana led yells and the ‘ibu-ibu’ followed her. It’s very exciting to see the yells. It’s like there’s a hope in their eyes. Before Ms. Lucyana passed the money to everybody in there, she held an exam! She asked a lot of questions, such as the procedure of taking loan, KKI’s vision, how much they should pay the loan weekly, etc. She made sure that everyone understood the rules. After she’s sure enough that they understood, Ms. Lucy gave the loan to everyone. The most interesting part was here. She gave the loan with some prayers that she hope the client’s business would go well, the client would be diligent to save money, and one day the client would exit poverty permanently.

Yelling - "Kami pasti, pasti, pasti BISA!"

Yelling – “Kami pasti, pasti, pasti BISA!”

I interviewed one of them, Bu Hamzah. She has already joined KKI for 6 periods. Every period is 25 weeks. She was very thankful to KKI. Even though she was a widow and didn’t have anything, KKI still want to give her a loan. And until now, she’s still could sell fish everyday in market and give its profit to her great-grandchildren. By the way, at first, she thought I was Mr. Leon. LOL.

After almost than an hour, the session was going to end. At the end of the session, Ms. Lucyana led another yells and vowed that KKI would help anyone that need loan, without any constraints with ethnics, religions, or races.

Without further ado after the session had ended, we went to another client’s house. It’s quite far. We had to cross the main road with a lot of big trucks there. The second session was Seminar. Seminar was held in every 6 months. The purpose of seminar was to remind the clients. Because when she asked the clients how much was their savings, everybody giggled. It was disappointing for her. She reminded them of saving. To achieve prosperity, they need to work hard, pray hard, and also saved some amount of money everyday. She also gave an inspiration story that a couple months ago, an old woman, a KKI member took all of her saving. The saving was more than IDR 8 Million! Everybody on that room was amazed by that story. To be honest, I was amazed too! She also challenged everybody to save a very little amount of money everyday. She said that KKI’s not a place that you could only take loan. If you only need loan, just looked for loan shark / ‘bank keliling’. KKI’s different, because its vision was to empower its members to exit poverty permanently. In the end, like the session before, we closed this session by praying.

Seminar I

Seminar I

In the end of that day, I was inspired again by KKI. Every employee including us was gathered in the main office room. We prayed together. Everybody who has problems or something to be prayed could share it to everybody. One of the Field Officers told that one of her clients was ill. After she said that, I really understood that ‘Koperasi Kasih Indonesia’ is not just a name.

I could say that’s the most inspiring day in my life.

P.S. : Koperasi Kasih Indonesia is recruiting!
For more info please visit http://kasihindonesia.com/ or https://www.facebook.com/kasihindonesia

KKI Future Leaders Program angkatan 2, ajakan untuk anak muda yang mau berbuat nyata membantu sesama dan mau mengembangkan dirinya menjadi pemimpin yang handal. Deadline: 14 Juli 2014. Don’t wait until the end, apply now! Informasi lebih lanjut cek poster atau http://www.kasihindonesia.com.

Social Impact Officer:
Panggilan untuk “Pengajar Juara” yang ingin membantu Ibu-Ibu pra-sejahtera keluar dari kemiskinan
Seseorang yang bisa mengatakan “Berbagi Ilmu dan membukakan pikiran sesama adalah anugerah dan panggilan hidup saya” adalah orang yang tepat untuk posisi ini.

Look Up! – Mbah Google Tidak Selalu Benar

Beberapa hari ini news feed Facebook saya sedang rame dengan video Look Up!

Saya jadi teringat dengan kejadian seminggu lalu. Saya mengikuti sebuah acara di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tempat yang asing bagi saya. Namun, beruntung travel dari Bandung bisa menurunkan saya tepat di tempat acara berlangsung. Namun, saya menjadi tidak mengetahui di mana pool travel tersebut. Setelah acara selesai, sembari menikmati makan siang, saya mencari alamat pool travel tersebut di Google Maps. Ternyata tempatnya tidak jauh, hanya perlu jalan kaki 10 menit!

Dengan mengandalkan Google Navigation Beta saya berusaha menuju tempat pool travel tersebut. Ketika dalam perjalanan-10-menit tersebut, saya kadang merasa ragu, apakah benar tempat travel nya sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Google Maps. Namun, saya tetap bersikeras mengarahkan mata terhadap layar kecil yang saya pegang ketimbang bertanya kepada orang-orang di sekitar.

Berjalan kaki selama 10 menit di Jakarta bukanlah perkara mudah. Motor lalu lalang dengan kencang di pinggir jalan, terik matahari yang menyengat, serta ramainya lalu lintas sehingga menyebrang jalan bukanlah perkara mudah. Setelah kurang lebih 10 menit saya berjalan dan memperhatikan Google Maps, saya sampai di sebuah tempat yang ditunjukkan oleh Google Maps, (yang katanya) C*paganti Kebon Jeruk. Tempat tersebut kosong melompong, dengan ada sebuah bilik di depan dan seorang satpam yang bersiaga.

Setelah bertanya dengan satpam tersebut, saya diberitahu bahwa pool travel ada di ujung jalan sebelah. Langsung saya cepat-cepat menyebrang jalan dan naik sebuah angkot. Dan mirisnya angkot tadi melewati seluruh jalan yang saya lewati sebelumnya dan mengambil belokkan yang berbeda.

 

Kadang yang mudah kok dibikin repot ya 😀

ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange 2014 – Day 0 (Part 2)

ASEANpreneurs Opening Ceremony akan segera dimulai! I was excited!

Post ini adalah kelanjutan dari post sebelumnya (Day 0 – Part1).

Opening Ceremony
Para peserta dibawa ke NUS Hall untuk mengikuti opening ceremony. Opening ceremony tidak hanya diikuti oleh peserta, namun terdapat beberapa pembicara, petinggi ASEANpreneurs, petinggi NES (NUS Enterpreneurship Society), sampai staff kedubes dari beberapa negara (termasuk Indonesia). Acara Opening Ceremony digelar secara elegan dan khidmat. Saya terkagum-kagum karena acara ini jadi terkesan sangat serius (emang serius sih acaranya haha) gara-gara Opening Ceremony. Acara dimulai dengan beberapa kata sambutan dari beberapa pihak, setelah itu dinyatakan bahwa ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange 2014 telah resmi dibuka!

Opening ala ASEAN

Delegasi yang terkagum-kagum, alias saya :p

MC : Kathleen Largo (left), Prateek Agrawal (right)

From left to right : Subra Shankar (VC), Andrew Bryant (motivator), Ibu Prairie M (Kedubes RI)

Importance of Entrepreneurship in ASEAN

Sesi pertama dibawakan oleh Subra Shankar (Bartender-At-Large), seorang serial entrepreneur dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang teknologi dan Food&Beverage. Beliau juga merupakan seorang lulusan Executive Management Training for Strategy Marketing dari Stanford University Graduate School of Business.

Entrepreneurship is as important as food to life – Subra Shankar

Sesi ini diawali dengan mendefiniskan apa itu entrepreneurship. Setelah itu beliau lebih banyak berbicara mengenai sejarah dan masa depan dari entrepreneurship di ASEAN, yang dimana GDP sebuah negara berkembang sebagian besar disokong oleh perusahaan nasioonal. Beliau juga membahas bagaimana ASEAN Economic Integration di tahun 2015.

Entrepreneurship is as important as food to life

The Importance of Self Leadership
Sesi kedua dibawakan oleh seorang motivator, Andrew Bryant. Beliau adalah seorang pengarang buku ‘Self-Leadership: How to Become a More Successful, Efficient and Effective Leader from the Inside Out’. Beliau mengajarkan bahwa dalam hidup , SHIT happens.

Situation

Habits

Inner Dialogue

Turbulence

Tetapi yang memedakan seorang enterpreneur yang sukses dengan yang tidak adalah Focus / Inteionality. Untuk lebih lanjutnya silahkan melihat slide beliau yang saya letakkan di bawah ini 😀

If you can’t lead yourself, you can’t influence others

Andrew Bryant


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20:00 waktu Singapore. Perut semakin bergejolak menahan lapar. Oh iya menurut saya acara dinner / lunch adalah salah satu acara yang sama pentingnya dibandingkan acara lainnya. Karena ketika makan kita dapat mengobrol / networking dengan orang-orang. Kalau mau ngobrol pun gampang topiknya 😀 Tanya saja bisnisnya apa, atau negaranya gimana. Haha. Yang repotnya bahasa Inggrisnya orang-orang ASEAN masih belepotan semua (kecuali Singapore & Malaysia).

Dinner Time

Delegasi dari Indonesia + Panitia dari Vietnam dan India yang kuliah di NUS

Coming Soon
ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange 2014 – Day 1
Personality Workshop – Ideation Workshop – Amazing Race

Coming Soon.. Day 1

ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange 2014 – Day 0 (Part 1)

Hello netizens!

Sudah lama sekali rasanya tidak memproduksi tulisan di blog ini. Hari ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya mengikuti ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange 2014 di National University of Singapore pada tanggal 24 – 30 Januari 2014 kemarin. Semoga apa yang saya bagikan disini bisa bermanfaat bagi para pembaca 😀

Pendaftaran Program

Awal mula saya mengetahui acara ini adalah sekitar dua tahun lalu dari blog seorang kakak kelas (yang belum saya kenal waktu itu). Saya sudah memantapkan hati ingin mengikuti acara ini sejak dua tahun lalu, namun apadaya sepertinya minat untuk berkecimpung di dunia enterpreneurship belum sebesar sekarang, sehingga saya melewatkan acara ini pada tahun 2013. Lalu sekitar bulan September 2013, saya mendapatkan informasi dari blog yang sama dan Page ASEANpreneurs bahwa telah dibuka pendaftaran untuk menjadi ASEANpreneurs Ambassador. Saat itu, sepertinya admin page ASEANpreneurs salah melampirkan file di page tersebut. File yang seharusnya berisi syarat pendaftaran ASEANpreneurs Ambassador, menjadi pemberitahuan untuk para former ambassador untuk merekomendasikan dua orang untuk menjadi ASEANpreneurs Ambassador di tahun 2014. Langsung saat itu juga, saya menghubungi William Lautama untuk meminta rekomendasi. Tak disangka ternyata, sebelum saya menghubungi dia, dia sudah berencana untuk merekomendasikan saya untuk menjadi ASEANpreneurs Ambassador. Hal ini sepertinya karena kita sudah pernah kerja bareng di Colosseum HMIF ITB pada Oktober 2012 lalu. Setelah mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan, pada bulan Oktober saya di-interview oleh pihak ASEANpreneurs. Singkat cerita, pada bulan November saya dikabarkan lolos menjadi ASEANpreneurs Ambassador dan secara otomatis menjadi salah satu delegasi Indonesia di acara ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange 2014 (AYLE 2014).

Keberangkatan

Pada tanggal 23 Januari 2014, pk 23.00, saya dan delegasi lainnya, Amelia (ITB) berangkat dari Bandung menggunakan travel X-Trans. Hal ini dikarenakan flight yang saya gunakan akan berangkat sekitar jam 5 pagi. Travel tiba di bandara Soekarno-Hatta International Airport, Jakarta pada pk 02.30. Ibukota saat itu sedang dirundung masalah banjir dan hujan yang tidak kunjung berhenti. Nahasnya, saya tidak bisa langsung masuk ke bandara pada saat itu, karena belum ada petugas. Saya hanya boleh masuk sekitar jam 4 pagi. Hawa Jakarta pada saat itu super dingin! Dan ternyata di luar Terminal 3 banyak orang-orang yang senasib dengan saya.

20140124_020158

Subuh di Terminal III CGK

Setelah check-in, saya bertemu dengan dua delegasi Indonesia lainnya, yaitu Alvin (Binus) dan Michael (Trisakti). Ternyata mereka berdua sudah saling kenal, karena sama-sama mengikuti XL Future Leaders. Selain itu Alvin adalah sepupu dari William. Dunia ini memang sempit haha. Singkat cerita pesawat kami terbang dan tiba di Changi Airport sekitar pk 09.00. Kami bertemu dengan panitia ASEANpreneurs dan beberapa delegasi dari Kamboja di meeting point (Starbucks Terminal I). Bus yang akan membawa kami ke NUS akan datang pk 11.00, sehingga kami masih ada waktu untuk mencari sarapan. Kalau di Singapura, sarapan kesukaan saya adalah telur rebus, roti, dan teh susu 😀 Akhirnya setelah berputar-putar di bandara, kami menemukan tempat makan yang relatif terjangkau. Dan baru kali ini saya menyadari ada rain drop di bandara Changi yang begitu indah. 😀

Meeting Point

Sarapan ala Singapura

Sarapan ala Singaporean

Rain Drop

Rain Drop

Setelah selesai menikmati sarapan, kami kembali ke meeting point, dan bertemu dengan beberapa delegasi lainnya dari Filipina, Thailand, dan Indonesia. Setelah bus datang, kami diangkut menuju Bunc Hostel di Little India. Saya, Alvin, dan Michael dapat satu kamar yang isinya ber-10 broh! Sesek luar biasa haha. Setelah mandi dan beres-beres, kami akan menuju NUS Hall untuk Opening Ceremony. Dari Bandung, saya membawa sebuah brownies kukus Amanda untuk dibagi-bagikan kepada para delegasi lainnya. Sebetulnya ini ide Alvin, sekalian dia nitip juga hehe. Ketika sedang menunggu bus, saya membagi-bagikan brownies tersebut, dan orang-orang jadi ingat saya. Bahkan ada orang Thailand memanggil saya brownies guy haha 😀 Btw saya bagi-bagi brownies kukus seperti sales professional karena pakai jas haha. 😀

Bunc Hostel

Bagi-bagi Brownies Kukus Amanda

Bagi-bagi Brownies Kukus Amanda

Bersama delegasi Indonesia, Thailand, dan Filipina

Bersama delegasi Indonesia, Thailand, dan Filipina

Sekian dulu post bagian pertama untuk Day 0
Di post berikutnya saya akan bercerita mengenai Opening Ceremony Day 0 🙂
Stay tune 😀

Coming soon.. Part 2 Day 0

Coming soon.. Day 0 (Part 2)