Month: May 2014

How to Wow – Beberapa Tips Praktikal

How to Wow (2008)

Hari ini saya mau review sebuah buku yang sudah saya sering baca berkali-kali hehe 😀

Pertama kali liat buku ini di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, saya sudah langsung kepincut lihat covernya. Kalau kata film-film “jatuh cinta pada pandangan pertama :D”

Proven Strategies for Selling Your [Brilliant] self in Any Situation

Nendang parah 😀 Namun, apadaya harus mengurungkan niat saat itu karena harganya sangat mahal (buku import). Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kesempatan membeli buku itu melalui titipan ke sepupu yang belajar di luar negeri.

Ternyata cover nya yang nendang memang benar dengan isi bukunya, sangat praktikal dan dapat dilakukan pada situasi apapun. Saya masih sering membaca buku ini, terutama untuk menghadapi interview dan presentasi yang beberapa saat terakhir ini sering dialami.

Berikut saya bagikan sedikit bagian dari buku ini yang sering saya pakai atau saya ingat baik-baik.

Dearly Beloved Data Lover

Bagian ini muncul di paling awal buku. Dan saya merasa hal ini merupakan dasar dari segala komunikasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang psikolog di UCLA, ada tiga hal penting yang ada pada komunikasi face-to-face

7% – 38% – 55% Rule

7 persen dari pengaruh kita muncul dari kata-kata yang kita ucapkan.

38 persen muncul dari intonasi pengucapan kata-kata tersebut.

55 persen dari gestur tubuh kita ketika mengucapkan kata-kata tersebut.

Dan hal ini juga terbukti dari video TED yang dulu saya tonton. Bahwa gestur badan / body language sangatlah berpengaruh dengan kata-kata yang kita ucapkan.

Because, because, because, because, because…

Terkadang kita sering dalam posisi sedang terburu-buru, terdistraksi, atau kadang kita berpikir sebuah jawaban sangat jelas, atau ketika kita tidak ingin ditanya lebih lanjut, dll. Dengan skenario tersebut kita sering hanya berbicara apa yang kita inginkan / butuhkan tanpa melibatkan pendengar kita di dalam proses decision-making kita. Kita sering lupa berbicara “karena”.

Melibatkan pembicara dengan kata-kata “karena” / “because” untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi meningkatkan nilai kemauan mereka bekerjasama dengan kita dari 60 ke 94 persen

Jadi kalau kita butuh seseorang membantu kita dengan effort terbaik dia 😀 dan ingin mengerti kita 😀 maka tambahkan kata “karena” / “because”.

Because if you do, it’s 94 percent likely you’ll get the assistance or support you’re looking for.

What’s the “Once Upon a time”?

There’s a reason all the fairy tales begin, “Once upon a time.” Very few children enjoy getting a lecture.

Let’s face it : “The Tree Little Pigs” wouldn’t have gotten off the ground if it began, “Today I’m going to tell you why you should build your house out of bricks instead of straw”).

Intinya setiap orang suka dengan cerita. Hal ini bisa kita pakai untuk di awal presentasi. Saya udah coba pake tips ini di beberapa presentasi dan saya pikir “It works!” hahaha 😀 Presentasi jadi lebih menarik, pendengar pun lebih gampang nyambung. Dan sedikit tips dari slideshare di bawah ini, kalau bisa buat ceritanya lebih emosional 🙂

Egos, Pathos, Logos

Ketiga elemen ini adalah elemen yang dirasakan oleh Aristoteles untuk membuat sebuah argumen menjadi efektif.

Ethos : pastikan anda pantas untuk berbicara tentang presentasi yang anda bawakan. Jangan lupa kalau bisa sertakan sedikit background mengenai anda (gelar, jabatan, dll.) untuk menaikkan integritas anda sebagai seorang pembicara.

Pathos : Berikan sebuah cerita / contoh / detail yang mendemonstrasikan pengalaman hidup / point of view yang sama dari para pendengar anda.

Logos : Pastikan setiap argumen anda benar-benar terbukti, tidak ngawang-ngawang. Bisa berdasarkan statistik, fakta, logika.

Untuk lebih jelasnya bisa liat slideshare di bawah ini.

Slideshare ini memang tidak ada hubungan langsung dengan buku How to Wow. Tapi menurut saya materinya dari slide ini sangat nyambung kalau dikombinasikan dengan buku How to Wow.

 

Semoga post ini dapat membantu 😀

Look Up! – Mbah Google Tidak Selalu Benar

Beberapa hari ini news feed Facebook saya sedang rame dengan video Look Up!

Saya jadi teringat dengan kejadian seminggu lalu. Saya mengikuti sebuah acara di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tempat yang asing bagi saya. Namun, beruntung travel dari Bandung bisa menurunkan saya tepat di tempat acara berlangsung. Namun, saya menjadi tidak mengetahui di mana pool travel tersebut. Setelah acara selesai, sembari menikmati makan siang, saya mencari alamat pool travel tersebut di Google Maps. Ternyata tempatnya tidak jauh, hanya perlu jalan kaki 10 menit!

Dengan mengandalkan Google Navigation Beta saya berusaha menuju tempat pool travel tersebut. Ketika dalam perjalanan-10-menit tersebut, saya kadang merasa ragu, apakah benar tempat travel nya sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Google Maps. Namun, saya tetap bersikeras mengarahkan mata terhadap layar kecil yang saya pegang ketimbang bertanya kepada orang-orang di sekitar.

Berjalan kaki selama 10 menit di Jakarta bukanlah perkara mudah. Motor lalu lalang dengan kencang di pinggir jalan, terik matahari yang menyengat, serta ramainya lalu lintas sehingga menyebrang jalan bukanlah perkara mudah. Setelah kurang lebih 10 menit saya berjalan dan memperhatikan Google Maps, saya sampai di sebuah tempat yang ditunjukkan oleh Google Maps, (yang katanya) C*paganti Kebon Jeruk. Tempat tersebut kosong melompong, dengan ada sebuah bilik di depan dan seorang satpam yang bersiaga.

Setelah bertanya dengan satpam tersebut, saya diberitahu bahwa pool travel ada di ujung jalan sebelah. Langsung saya cepat-cepat menyebrang jalan dan naik sebuah angkot. Dan mirisnya angkot tadi melewati seluruh jalan yang saya lewati sebelumnya dan mengambil belokkan yang berbeda.

 

Kadang yang mudah kok dibikin repot ya 😀