Anak Muda Harapan Bangsa di Masa Depan?

Di tengah gelap nya malam, sang cakrawala kembali menangis. Tangisannya tidak kunjung reda meski sudah cukup lama. Tak bisa kutanya mengapa sang cakrawala menangis. Mungkin sedih melihat bobroknya negeri ini. Yap, tak perlu disembunyikan lagi bahwa kita memang hidup di negeri yang katanya sangat bobrok. Hampir semua sistem birokrasinya bobrok tidak karuan. Sudah rahasia umum, atau mungkin lebih tepatnya kenyataan, bahwa uang membuat segala sesuatu di negeri ini lebih mudah. Tender proyek, izin membuat surat, hukuman pidana, apalagi nilai Ujian Nasional, semuanya dapat diatur dengan beberapa lembar uang yang bergambar sang proklamator negeri ini. Ironis memang.

Ketika tadi sepulang perjalanan ke rumah, di tengah macetnya Jalan Pasteur, saya mendengarkan Radio P (atau mungkin H? Saya juga lupa). Disana sang penyiar bercerita tentang pendapat temannya bahwa mereka sudah tidak sabar untuk Pemilu 2019. Loh 2019? Iya 2019, karena mereka merasa pada Pemilu 2014 masih ada generasi ‘yang tersisa’ dari orde sebelumnya. Sehingga pada Pemilu 2019 mereka berharap generasi tersebut sudah terlalu tua untuk maju kembali ke medan perang politik merebutkan takhta nomor satu di negeri ini. Mereka berharap ada generasi yang fresh, yang memiliki idealisme tinggi.

Sejenak saya terdiam. Saya teringat dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dimana akhirnya ada sosok (yang katanya) bersih bisa memenangkan Pemilihan Gubernur (yang katanya lagi) lawannya adalah seorang  yang kotor, banyak korupsi, dll. Kemenangan itu membawa angin segar bukan hanya bagi DKI Jakarta, tapi menurut saya seluruh rakyat Indonesia. Saya pun langsung memiliki sebuah semangat baru bahwa bangsa ini dapat diperbaiki.

Kembali ke cerita sang penyiar, beliau pun menghadirkan seorang narasumber yang akan diajak berbincang-bincang. Cukup geli saya mendengar mereka berbincang-bincang. Entah karena memang anak muda atau sok anak muda, sang penyiar berbincang-bincang dengan narasumber dengan bahasa campur-campur. Inggris campur Indonesia. Cukup geli mendengarnya, namun karena topiknya menarik saya tetap mendengarkan mereka.

Jadi ceritanya, sang narasumber telah melakukan survey terhadap 2000 anak muda di seluruh Jakarta, dari berbagai kalangan, dan beliau berani memberikan klaim bahwa data mereka 98% akurat. Kesimpulan mereka dapat ternyata cocok dengan hipotesa mereka bahwa

78% dari seluruh responden mengetahui pengetahuan yang benar. Mereka setuju bahwa integritas adalah hal yang lebih penting apabila dibandingkan dengan kekayaan.

Saya cukup kagum mendengar fakta tersebut, dan sang narasumber kembali memberikan fakta kedua bahwa

68% dari seluruh responden akan menyelamatkan keluarganya dengan uang apabila (misalnya) keluarganya terjebak kasus korupsi / tilang / dsb.

Fakta ini tentu saja cukup membuat bingung. Bagaimana mungkin orang yang mengerti teori yang benar, melakukan praktek yang salah ? Inilah negeriku kawan, dimana orang-orang yang berusaha melakukan hal yang benar tersudutkan oleh dominasi beberapa oknum.

Berapa banyak dari kita yang akan memilih damai di tempat dibandingkan dengan slip biru / slip merah, yang harus menyediakan waktu untuk mengambil SIM yang ditilang di pengadilan ?

Berapa banyak dari kita yang membuat SIM secara instan dalam waktu kurang dari dua jam atau secara jujur dengan menyediakan waktu untuk mengikuti tes teori, tes praktek, dan menunggu SIM selesai dicetak yang kadang memakan waktu satu minggu ?

Saya sebagai seorang mahasiswa yang (katanya harusnya) idealis merasa muak dengan realita bangsa ini. Apakah hanya saya saja yang muak? Apakah yang lain melihat realita ini hanya tersenyum dan berkata “inilah Indonesia kawan..” ? Semoga dengan bergulirnya tulisan sederhana ini, menjadi refleksi bagi saya dan pemuda-pemudi lainnya. Semoga ketika tiba saatnya generasi kita memimpin bangsa ini, kita dapat mewariskan Indonesia kepada generasi berikutnya dengan penuh rasa bangga.

Bangga karena generasi kita berhasil mengubah negeri ini

Ngomong-ngomong, sang cakrawala sudah berhenti menangis. Mengingatkan saya sebagai seorang mahasiswa memiliki amanah dari orang tua. Saatnya kembali berkutat dengan tugas-tugas yang ada 😀

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s