Month: May 2013

Antara Mimpi dan Keamanan Informasi

https://i1.wp.com/mediadownload.adidas.tv/adidas_Global_Publishing/21/208/Messi-overnight-success_medium.jpg

Sudah lama saya ingin menulis kembali di blog ini. Sudah ada beberapa hal yang akan ditulis :), namun sayang waktu nya belum sempat. Tapi yang ini rasanya urgent banget, jadi langsung ditulis mumpung masih hangat šŸ™‚

Ada beberapa kegiatan hari ini meskipun saya ngerem di rumah, yaitu facebookan, Wawancara (remote) asisten Laboratorium Basis Data dan nge-deadline makalah KI. (yang progressnya lama banget entah kenapa -__-) Nah ceritanya saya mengambil topik tentang Advanced Persistent Threat. Intinya itu jenis serangan yang targetnya benar-benarĀ spesifik, biasanya sebuah organisasi dengan tujuanĀ information exfiltration. Dan serangan yang dilakukan bukan semata-mata karena “kebetulan” menemukan celah keamanan, apalagi hanya pamer semata, tapi benar-benar untukĀ mencapai sebuah TUJUAN.

Kesannya kayak serius banget ya APT. Yap memang serius banget, karena target nya biasanya perusahaan besar atau pemerintah. Yang lagi ngetrend beberapa waktu terakhir adalah di China dan Hong Kong (berdasarkan paper yang saya baca sejauh ini).

Attacks with this degree
of focus represent both a higher degree of danger
and higher level of difficulty to defend against than
typical technical defenses, policies, and awareness
programs are scoped to handle.

Nilai moral yang saya dapat adalah :

Untuk mencapai tujuan yang BESAR diperlukan effort, dedikasi, beserta fokus yang BESAR juga.

Cerita kedua tentang Wawancara (remote) asisten Lab Basis Data adalah tentang keuntungan menjadi asisten. Salah satu nya tentu saja sharing knowledge. Saya masih ingat sharing knowledge pertama kali yang saya rasakan di Lab Basis Data disampaikan oleh Kak Fransiska IF08. Warga Labtek V sepertinya ga ada yang ga kenal sesepuh yang satu ini :D. Digambarin satu kalimat dia adalah : Top 5% student – UKP4 Internee – YLI – Singularity University – Startup Chille. Dan satu hal yang saya ingat dari beliau adalah untuk mencapai satu tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya, resepnya adalah KERJA KERAS. Selain itu pada sharing knowledge tersebut beliau membabarkan tentang trend Big Data yang ia pelajari di Singularity University. Dan saya yang mendengar sharing tersebut percaya bahwa Big Data akan menjadi trend di masa mendatang. Oleh karena itu sejak saat itu saya memilki tujuan / minat lebih mengenai hal-hal yang berbau Big Data. Karena minat itulah bisa dikatakan saya cukup antusias untuk membaca / berdiskusi tentang hal-hal yang terkait Big Data.

Kesuksesan adalah kesempatan bertemu dengan kesiapan.

Inti dari post yang sangat tidak terstruktur ini adalah :

Carilah mimpi (tujuan), jadikan itu doping semangat untuk menjalankan setiap kegiatan.

Materi yang diperlukan untuk melakukan konversi dari MIMPI menjadi KESUKSESAN adalah AKSI

Image

sumber foto :

1. http://mediadownload.adidas.tv/adidas_Global_Publishing/21/208/Messi-overnight-success_medium.jpg

2. cover facebook teman :))

Anak Muda Harapan Bangsa di Masa Depan?

Di tengah gelap nya malam, sang cakrawala kembali menangis. Tangisannya tidak kunjung reda meski sudah cukup lama. Tak bisa kutanya mengapa sang cakrawala menangis. Mungkin sedih melihat bobroknya negeri ini. Yap, tak perlu disembunyikan lagi bahwa kita memang hidup di negeri yang katanya sangat bobrok. Hampir semua sistem birokrasinya bobrok tidak karuan. Sudah rahasia umum, atau mungkin lebih tepatnya kenyataan, bahwa uang membuat segala sesuatu di negeri ini lebih mudah. Tender proyek, izin membuat surat, hukuman pidana, apalagi nilai Ujian Nasional, semuanya dapat diatur dengan beberapa lembar uang yang bergambar sang proklamator negeri ini. Ironis memang.

Ketika tadi sepulang perjalanan ke rumah, di tengah macetnya Jalan Pasteur, saya mendengarkan Radio P (atau mungkin H? Saya juga lupa). Disana sang penyiar bercerita tentang pendapat temannya bahwa mereka sudah tidak sabar untuk Pemilu 2019. Loh 2019? Iya 2019, karena mereka merasa pada Pemilu 2014 masih ada generasi ‘yang tersisa’ dari orde sebelumnya. Sehingga pada Pemilu 2019 mereka berharap generasi tersebut sudah terlalu tua untuk maju kembali ke medan perang politik merebutkan takhta nomor satu di negeri ini. Mereka berharap ada generasi yang fresh, yang memiliki idealisme tinggi.

Sejenak saya terdiam. Saya teringat dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dimana akhirnya ada sosok (yang katanya) bersih bisa memenangkan Pemilihan Gubernur (yang katanya lagi) lawannya adalah seorangĀ  yang kotor, banyak korupsi, dll. Kemenangan itu membawa angin segar bukan hanya bagi DKI Jakarta, tapi menurut saya seluruh rakyat Indonesia. Saya pun langsung memiliki sebuah semangat baru bahwa bangsa ini dapat diperbaiki.

Kembali ke cerita sang penyiar, beliau pun menghadirkan seorang narasumber yang akan diajak berbincang-bincang. Cukup geli saya mendengar mereka berbincang-bincang. Entah karena memang anak muda atau sok anak muda, sang penyiar berbincang-bincang dengan narasumber dengan bahasa campur-campur. Inggris campur Indonesia. Cukup geli mendengarnya, namun karena topiknya menarik saya tetap mendengarkan mereka.

Jadi ceritanya, sang narasumber telah melakukan survey terhadap 2000 anak muda di seluruh Jakarta, dari berbagai kalangan, dan beliau berani memberikan klaim bahwa data mereka 98% akurat. Kesimpulan mereka dapat ternyata cocok dengan hipotesa mereka bahwa

78% dari seluruh responden mengetahui pengetahuan yang benar. Mereka setuju bahwa integritas adalah hal yang lebih penting apabila dibandingkan dengan kekayaan.

Saya cukup kagum mendengar fakta tersebut, dan sang narasumber kembali memberikan fakta kedua bahwa

68% dari seluruh responden akan menyelamatkan keluarganya dengan uang apabila (misalnya) keluarganya terjebak kasus korupsi / tilang / dsb.

Fakta ini tentu saja cukup membuat bingung. Bagaimana mungkin orang yang mengerti teori yang benar, melakukan praktek yang salah ? Inilah negeriku kawan, dimana orang-orang yang berusaha melakukan hal yang benar tersudutkan oleh dominasi beberapa oknum.

Berapa banyak dari kita yang akan memilih damai di tempat dibandingkan dengan slip biru / slip merah, yang harus menyediakan waktu untuk mengambil SIM yang ditilang di pengadilan ?

Berapa banyak dari kita yang membuat SIM secara instan dalam waktu kurang dari dua jam atau secara jujur dengan menyediakan waktu untuk mengikuti tes teori, tes praktek, dan menunggu SIM selesai dicetak yang kadang memakan waktu satu minggu ?

Saya sebagai seorang mahasiswa yang (katanya harusnya) idealis merasa muak dengan realita bangsa ini. Apakah hanya saya saja yang muak? Apakah yang lain melihat realita ini hanya tersenyum dan berkata “inilah Indonesia kawan..” ? Semoga dengan bergulirnya tulisan sederhana ini, menjadi refleksi bagi saya dan pemuda-pemudi lainnya. Semoga ketika tiba saatnya generasi kita memimpin bangsa ini, kita dapat mewariskan Indonesia kepada generasi berikutnya dengan penuh rasa bangga.

Bangga karena generasi kita berhasil mengubah negeri ini

Ngomong-ngomong, sang cakrawala sudah berhenti menangis. Mengingatkan saya sebagai seorang mahasiswa memiliki amanah dari orang tua. Saatnya kembali berkutat dengan tugas-tugas yang ada šŸ˜€